Nama: Keti Yuliantika
Nim: 12001141
Kelas: 4D PAI
Matkul: Media Pembelajaran
Dosen pengampu: Drs. Fahrul Razi, M.Pd. dan Firmansyah, S.Pd. I,M. Pd.
IAIN Pontianak yang merupakan kampus tempat saya menimba ilmu telah memulai perkuliahan secara tatap muka atau offline. Bagi mahasiswa semester lama, dalam hal ini adalah saya yang merupakan mahasiswa semester 4, selama masa Covid ini, pembelajaran lebih banyak dilaksanakan secara online. Tak jarang banyak mahasiswa seperti kami yang menginginkan saat-saat belajar secara tatap muka.
Semester baru ini menjadi kabar gembira karena kampus telah membuka perkuliahan tatap muka. Saya sendiri lebih menyukai perkuliahan secara offline dibandingkan online. Alasannya, karena kita menjadi mahasiswa bukan saja untuk mendapatkan ilmu, tapi lebih dari itu. Misalnya saja relasi, pengalaman yang didapat melalui berbagai kegiatan kampus, dan banyak hal lainnya yang tidak melulu ilmu yang harus di dapat dari pelajaran di dalam kelas. Maka dari itu, dalam tulisan ini saya ingin membagikan sedikit cerita pengalaman saya mengikuti kuliah offline di hari pertama setelah sekian lama belajar secara online.
Suasana Pembelajaran Di Kelas
Sebelum masuk kuliah, saya dan beberapa orang teman berbincang-bincang tentang kabar bahwa kampus akan melakukan pembelajaran secara offline untuk mahasiswa semester lama. Ada rasa deg-degan, tapi juga antusias, ada rasa takut kalau-kalau dosennya galak dan terlalu ketat aturan, dan banyak kekhawatiran juga kecemasan yang dirasa.
Rasanya menyenangkan bisa melaksanakan perkuliahan secara offline. Bagi saya pribadi, mengikuti kuliah secara offline lebih menyenangkan dan lebih membuat saya paham dibanding kuliah online. Interaksi yang terjadi antara dosen dan mahasiswa sangat sedikit ketika online, terlebih dari sisi dosen sendiri tidak bisa memantau apakah mahasiswanya benar-benar mengikuti perkuliahan ataukah tidak. Beda halnya dengan mengikuti kuliah offline, interaksi antara dosen dan mahasiswa jauh lebih baik. Bahkan kalaupun ada mahasiswa yang tidak telalu menyimak perkuliahan, dosen dapat dengan mudah melihatnya dan membuat interaksi dengan mahasiswa tersebut, sehingga pembelajaran menjadi lebih optimal.
Teman yang Banyak Tanya
Karena ini masih awal masa perkuliahan, mungkin “teman yang banyak tanya” belum muncul keberadaannya. Namun, tak dapat dipungkiri, di kelas manapun itu selalu ada saja teman yang banyak tanya dengan pertanyaan yang bikin pusing. Dalam dunia akademik tentu itu hal baik, tapi bagi mahasiswa yang membuat makalah dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik, tentu akan terkesan tidak menyenangkan.
Kelabakan, bingung, dan grogi mungkin akan dirasakan. Selama online sendiri, banyak mahasiswa yang aktif berpastisipasi dalam sebuah diskusi, tapi tentunya rasanya akan sama sekali berbeda dengan diskusi yang terjadi secara tatap muka langsung di kelas.
Saya sendiri selama mengikuti kegiatan perkuliahan online merasa, bahwa diskusi yang terjadi menggunakan media online tidak seinteraktif diskusi yang terjadi ketika di kelas secara tatap muka. Maka dari itu, mungkin kehadiran “teman yang banyak tanya” akan cukup menyenangkan untuk di nanti di semester kali ini ketika perkuliahan dilaksanakan secara tatap muka.
Lebih Baik Offline atau Online?
Di IAIN Pontianak, untuk mahasiswa semester lama perkuliahan tidak sepenuhnya dilaksanakan secara offline. Semua kembali pada keputusan dosen pengajar itu sendiri. Di awal perkuliahan, kami ditawarkan, apakah memilih offline atau online. Saya sendiri lebih memilih offline. Namun, tidak dapat dipungkiri pula banyak yang menginginkan pembelajaran secara online.
Pastinya ada banyak kelebihan yang didapat ketika pembelajaran secara online dilakukan. Mulai dari waktu dan tempat yang fleksibel, hemat bensin karena tidak perlu datang ke kampus, hemat uang juga karena tidak perlu keluar uang untuk cetak tugas, bisa dibarengi melakukan kegiatan lain, dan lain sebagainya.
Namun, tidak dapat dipungkiri pula, belajar bukan sekadar mengetahui sesuatu atau menambah wawasan semata. Sebab, jika memang demikian, mbah Google jauh lebih pantas kita jadikan guru dibanding para pengajar di dunia akademik, karena ia jauh lebih tahu banyak hal. Tapi kan tidak!
Karena guru bukan sekedar orang yang memberi kita wawasan, tapi guru adalah sebagaimana ungkapan Jawa menjabarkannya orang yang digugu lan ditiru, yaitu orang yang pantas kita ikuti dan percaya ucapannya dan kita teladani tindak tanduknya. Maka dari itu, kita datang ke kampus adalah untuk menjadi manusia yang lebih baik baik dari segi pengetahuan, moral, akhlak, sikap, dan pengalaman-pengalaman.
Karena itulah, saya jauh lebih setuju dengan metode perkuliahan offline jika memang kondisi saat ini telah memungkinkan. Selain itu, masa iya sudah bayar mahal-mahal kok gak bisa merasakan fasilitas kampus, ya rugi dong! Haha.
Komentar
Posting Komentar